Kasus ini bisa terjadi karena murai tersebut tertekan mendengar suara murai lain yang lebih dominan atau dengan bahasa lain yang lebih halus diistilahkan Over Birahi, tetapi menurut saya istilah Over Birahi ini terlalu umum sekali. Kasus ini apabila tidak segera ditanggulangi akan menjadi penyakit kronis secara physikologis. Kami istilahkan di sini tertekan karena biasanya terjadi pada burung murai yang usianya relativ masih muda dan terus menerus mendengar suara murai yang lebih mapan, jadi tidak harus otomatis berarti murai muda itu ketakutan. Kejadian ini juga bisa terjadi kepada kita manusia, pernakah kita sewaktu masa kecil berurusan denga preman? Hati kita sebetulnya berani melawan si preman tersebut tetapi karena saat itu kita merasa masih lebih kecil atau si preman tersebut banyak rekan2-nya akhirnya kita harus menahan diri kan? Kesal sih kesal tetapi memang sikon yang belum memungkinkan. Nah kurang lebih kasusnya sama dengan burung, khususnya burung murai batu yang memang fighter sejati.
Biasanya kasus ini terjadi pada burung yang usianya masih muda tetapi oleh kita sering2 dilombakan, pertama kemudian kedua kali dilombakan masih selamat tetapi kalau lagi sial tiba2 dievent lomba berikutnya gantangan murai kita harus berdampingan langsung dengan murai jawara sejati yang memang typikal suaranya menekan ditambah murai kita saat itu kondisinya lagi kurang fit dan kebetulan juga murai kita itu memiliki mental fighter yang tinggi kemungkinan sekali kasus ini bisa terjadi. Sesampainya di rumah biasanya amarahnya murai muda tersebut masih ter-bawa2, istilahnya nafsu besar tenaga kurang, tanpa pemantauan yang cermat dan sekali lagi badan kita lagi sial bisa jadi murai muda itu seiring dengan berjalannya waktu mulai matukin bulu yang biasanya dimulai dari bulu ekor kemudian merembet ke bulu sayap. Ada yang menganjurkan dilombakan lagi saja supaya amarahnya terlampiaskan, DIJAMIN burung tersebut tidak akan benar kinerjanya. Lha bagaimana mau benar penampilannya wong birahi siburung tidak dalam ke adaan stabil??? Bisa2 ngebatman atau nabrak2 jeruji saja se-olah2 murai ter sebut mau mengajak berantem ngadu physik langsung dengan murai tetangga gantangannya. Kasus ini bisa juga terjadi di rumah kita sendiri bilamana kita membeli seekor burung murai muda tetapi kita tidak memperhatikan bahwa di rumah kita sudah ada murai lain yang sudah gacor dan usianya juga sudah mapan. Kalau murai muda tersebut terus menerus mendengarkan suara murai tua tadi dan kebetulan murai muda kita yang baru beli ini sudah berani melawan burung murai lainnya dan kebetulan mental fighternya juga tinggi maka kalau badan lagi sial kasus ini kemungkinan bisa terjadi juga. Jadi ber-hati2 lah apabila kita mendapatkan murai muda yang memang mental fighternya tinggi tidak cukup hanya dengan merasa senang dan bangga saja akan tetapi harus dibarengi konsekuensi2 yang harus dijalankan juga, sebagai contoh yang gampang mengenai penempatannya dan pola setingan menu hariannya juga patut diperhatikan. Apabila kasus ini sampai terjadi pada salah satu burung murai kita maka salah satu penanggulangan yang sejauh ini kami ketahui adalah : Pertama, kita ungsikan dahulu salah satu murai kita, disarankan dalam hal ini mungkin lebih baik yang diungsikan murai yang sering mengeluarkan suara itu agar supaya kita bisa lebih fokus memantau murai lainnya yang sedang bermasalah ini. Kedua, setingan menu harian jangkrik diturunkan misal yang awalnya pagi dan sore masing2 5 ekor menjadi 3 ekoran saja.
Pemberian kroto bisa tetap seperti se mula. Untuk sementara pem berian semua jenis vitamin2 diberhentikan dahulu. Ketiga, penjemuran secukupnya saja jadi jangan sampai berlebihan. Keempat, kerodong kita buka saja mulai dari pagi sampai jam 17.30an atau bahkan sampai jam 18.00. Therapi ini dijalankan 3 minggu sampai 4 minggu kemudian untuk selanjutnya kita pantau lagi. Kelima, di atas alas karpet sangkar kita tambahkan alas koran tetapi setiap hari harus diganti dengan yang baru, alas koran ini dimaksudkan untuk pengalihan amarah siburung murai tersebut. Ada juga yang menyarankan di dalam sangkar murainya dimasukkan burung gereja atau jenis burung kecil lainnya untuk pelampiasan amarahnya tetapi untuk yang satu ini tidak kami sarankan, sebagai alternativnya kita gantikan saja dengan alas koran tadi yang terpenting fungsinya sama. Semoga share ini bisa bermanfaat, seperti biasanya silahkan menambahkannya demi ke pentingan bersama….

No comments:
Post a Comment